Menilik Kerajinan Kain dari Kulit Beringin di Rampi yang Hampir Punah

By iRedaksi 04 Nov 2019, 11:35:07 WIB Seni & Budaya
Menilik Kerajinan Kain dari Kulit Beringin di Rampi yang Hampir Punah

* Pengrajin Harap Perhatian Pemerintah 

 

RAMPI, IREDAKSI.com -- Melestarikan tradisi dan budaya kini menjadi tantangan tersendiri di jaman modern ini. Dengan menelusuri Kecamatan Rampi, Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Luwu Utara, Ir Marthina Simon berkunjung ke pengrajin kulit kayu, untuk bertukar pikiran dengan warga setempat.

Disana, Marthina membahas tentang ide pembentukan lembaga kesenian dan pengrajin di tanah Onondowa Rampi yang belum terstruktur kelompoknya.

Kalau melihat secara langsung di Desa Onondowa Kecamatan Rampi, para generasi muda tak tertarik untuk menekuni kerajinan ini, lantaran harga kain kulit kayu begitu murah. Di sisi lain jumlah pengrajinnya kini terus berkurang karena banyak yang sudah berusia tua (lansia) bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

Kerjasama ini Marthina Simon bertemu Ibu Herlina Shinta dan para tokoh-tokoh adat(Tokey Bola’). Dari situ, Ketua IKAT Lutra mulai prihatin melihat akan kepunahan pengrajin baju, celana, topi, selendang, ikat kepala dari kulit kayu ini.

Di hadapan Marthina, Ibu Shinta menyampaikan rasa ketakutannya akan kepunahan pengrajin kulit kayu, sehingga pandangan dan motivasi yang diberikan Ketua IKAT Lutra untuk membangun kelompok pengrajin yang berada di Desa Onondowa sangat diapresiasi.

“Ketakutan saya pengrajin Kulit kayu di kampung kami bisa punah, karena belum ada generasi to Rampi yang bisa melanjutkan yang saya tekuni peninggalan dari nenek moyang kami,” kata Herlina Shinta.

Tak berhenti hanya merangkul pengrajin, Marthina juga akan mempromosikan sejumlah produk dari kain kulit kayu, sehingga nilainya bertambah dengan mengajarkan untuk berkelompok atau mendirikan kelompok Lembaga Adat Kesenian dan pengrajin yang terstruktur nantinya.

“Membuat kain dari kulit kayu beringin saat ini memang bukan mata pencaharian utama, itulah yang menyebabkan produksinya masih sangat terbatas,” jelas Martina.

Proses produksi dari bahan setengah jadi menjadi barang siap pakai pun masih dilakukan secara tradisional. Bahkan, pewarnaan menggunakan bahan baku alam yang berasal dari berbagai jenis tanaman, misalnya Indigo, Turi, Mengkudu, dan daun Mangga.

Herlina Shinta hanya dibantu oleh suami dan anak-anaknya bila datang lagi di Onondowa. Dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Utara bisa membantu pendirian pondok sekretariat untuk tempat membuat tenunan dari kulit kayu, supaya kedepannya, bisa terus melestarikan dan menarik anak muda untuk menjadi pengrajin kain kulit kayu.

Dirinya sangat berharap bisa ada galeri dan koperasi untuk warga di Onondowa, yang dapat dijadikan tempat untuk memamerkan produknya. Di sisi lain, warga bisa mendapatkan support atau suntikan modal.

Oleh: Chank

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook